Sabtu, 14 Juli 2012

My 'Happy' Friday 13th!

Angka 13 emang selalu diidentikkan atau dikaitkan dengan yang namanya kesialan. Tidak heran jika mayoritas dari kita menganggap (atau bahkan percaya) bahwa '13' adalah sebuah angka sial.

Tiga Belas
Friday the 13th (tanggal 13 di hari Jumat) diyakini banyak orang (terutama di negara-negara barat) sebagai hari yang membawa sial. Konon katanya, banyak kesialan-kesialan yang muncul di tanggal 13 hari Jumat--yang muncul sebelas tahun sekali ini.

Dan apa yang terjadi dengan hidup gue di waktu ini, kemarin?
Tanggal 13 Juli 2012 di hari Jumat kemarin, hari-hari gue sama sekali jauh dari yang namanya kesialan, yang ada malah kesenangan yang tiada tara.

Gue rekaman men, sama grup vokal gue!

We are JAVANICATION! (Postingan selanjutnya gue akan nulis dan cerita panjang lebar tentang grup vokal kita ini)
Jadi, gue dan grup vokal gue ini dipercaya sama dekan fakultas gue, Bapak Arif Satria untuk menyanyikan lagu ciptaan beliau. Dekan gue yang satu ini emang terkenal banget sama sebutan 'dekan artis', karena suka banget sama yang namanya dunia seni, terutama seni musik. Beliau jago banget yang namanya nulis lagu, main gitar, dan nyanyi. Beliau juga jadi produser buat beberapa artis dan sahabatan sama Addie MS. Super banget lah pokoknya dekan fakultas gue ini.

Lanjut...

Kemarin siang, sekitaran pukul 15.00an, gue dan temen-temen Javanication (minus satu orang) berangkat ke salah satu studio rekaman di daerah Kota Bogor untuk rekaman lagu barunya pak dekan ini. Setelah menempuh perjalanan yang lumayan bikin gerah dengan menggunakan kendaraan sejuta umat di Bogor, bernama angkot; kita pun tiba di studio rekaman.

Ini kali pertamanya gue masuk studio rekaman macem beginian, dan gue nervous banget. Gue pura-pura bersikap tenang dan wajar di depan temen-temen gue yang lain, padahal mah di dalem hati udah deg deg deg serrrr abis. Norak ya gue.

Take vocal dimulai sekitaran pukul empat sore. Berhubung studionya lumayan kecil, jadi kita ga bisa ngetake barengan sekaligus, jadi harus bergiliran satu-persatu. Dari kelima temen grup vokal gue ini, gue kebagian ngetake di urutan terakhir.
Waktu terus berlalu, keempat temen gue pun selesai ditake, dan ini saatnya giliran gue!.
Makin deg-degan dan gemeteran, karena takut salah-salah. Dan ternyata engga seserem yang gue bayangkan, gue cukup menikmati proses take vocal bagian gue, yah meskipun di beberapa part harus ada beberapa yang diulang karena salah dan kurang ini itu. Tapi setelah didenger, hasilnya oke juga he-he-he.

Rekaman di studio rekaman yang gue kira bakal beres dalam waktu beberapa jam, ternyata baru beres hampir pukul 9an malem. Lama juga ya ternyata. Gue dan keempat temen lainnya akhirnya pulang dianter sama bapak dekan (setelah sebelumnya ditraktir makan), yang kebetulan juga ikut dateng pas kita rekaman. Bapak dekan puas banget sama hasil rekamannya, dan katanya beliau mau ngasih demo rekaman tersebut ke Addie MS untuk didengerin dan 'diuji kelayakannya'. Lagu ini juga sengaja diciptakan untuk acara "Masa Perkenalan Fakultas" adik-adik kelas gue, dan kita akan nyanyiin di acara tersebut, akhir Agustus nanti.

"Mau bikin album ga kalian? Saya bikinin." - kata pak dekan.
 Dalem hati gue: MAU BANGET, Pak! (semoga terwujud beneran. amin.)

***
Super duper seneng kemarin. Meskipun capek seharian rekaman di studio, tapi sebanding banget sama kesenangan yang didapetin. Pengalaman pertama masuk studio rekaman, ga pernah kebayang buat gue bisa sampe begini. Sejak membentuk grup vokal ini, banyak hal-hal dan pengalaman baru yang gue rasakan dan tentunya membanggakan.
Terima kasih banyak untuk bapak dekan. Dekan yang menurut gue sangat baik dan sangat memfasilitasi minat bakat mahasiswa-mahasiswanya. Thank you!

Dan,
Sorry, mitos Friday the 13th ga berlaku buat gue, ya!
Hari gue kemarin sama sekali ga sial tuh
Menyenangkan, malah..
Read More..

Senin, 09 Juli 2012

Syuting di stasiun 'Ikan Terbang' !

Setelah sebelumnya pernah ikut syuting di dua stasiun televisi swasta, kemarin gue kembali bisa merasakan pengalaman syuting untuk sebuah acara di stasiun televisi yang terkenal dengan 'ikan terbang'-nya.
You know 'it' so well, kan.

Gue engga syuting beginian kok :")

Gue bersama beberapa temen sejurusan, hari Kamis (05/07/12) kemarin berkesempatan untuk mengikuti syuting sebuah program bertemakan politik yang dikemas dengan bumbu komedi yang santai dan lebih fresh. Keikutsertaan kita di acara ini adalah dalam rangka dana usaha (danus) untuk menambah dana untuk sebuah acara jurusan yang akan kita laksanain. Penonton bayaran, ceritanya.

Hari itu, kita (dari IPB) syuting bersama mahasiswa-mahasiswa dari FISIP UI, STIKOM Cirebon, dan STKIP Yasika Majalengka. Syuting yang dijadwalkan akan dimulai pada pukul 13.30, ngaret sekitar sejam-an. Alhasil, kita semua disuruh duduk nunggu di sisi belakang, sambil dikasih pengarahan sama mas-mas di sana. Setiap universitas ditunjuk satu perwakilan buat bertanya atau ngasih statement di acara nantinya, dan orang yang ditunjuk jadi perwakilan tersebut kemudian dikasih sebuah kertas bertuliskan pertanyaan atau statement yang harus ia utarakan di saat acara nanti. Jadi, pihak stasiun tv-nya udah nyiapin apa yang harus lo omongin dan sampein, lo tinggal ngikutin aja apa yang mereka suruh.
Terkesan 'diarahin' banget engga sih. Padahal seharusnya kan ya kita bebas mengutarakan apa yang ingin kita utarakan, tanpa ada arahan dari siapapun. Apalagi ini kan acaranya tentang politik, harusnya mahasiswa dikasih kesempatan buat ngomong dan berpendapat secara bebas dong, ga perlu 'diarahin' harus ngomong ini, harus ngomong itu. Tapi yaaaa, namanya juga stasiun tv mah di mana-mana juga kayak gini semua. Ikutin aturan mainnya aja intinya mah.

Lanjut...

Sebelum syuting benar-benar dimulai, keempat rombongan universitas ini disuruh duduk ke tempat duduk di sekeliling panggung utama. Gue dan temen-temen IPB sendiri duduknya berhadapan sama anak FISIP UI.
Mas-mas floor director-nya kemudian maju ke tengah panggung utama buat ngasih pengarahan dan penjelasan ke kita semua terkait proses taping yang akan kita ikutin. Pertamanya, kita semua diambil gambar ketika bertepuk tangan sambil tersenyum antusias selama beberapa menit. Anjrit, tangan gue udah sakit dan memerah, tapi ga disuruh berhenti tepuk tangan, malah disuruh bertepuk tangan makin keras dan ekspresi mukanya harus makin terlihat antusias. Kampret. Setelah pengambilan gambar tersebut, kita pun diambil gambar menunjukkan ekspresi wajah serius seolah-olah menyimak pembicaraan di depan. Asli, susah banget loh kalo diatur-atur gini. Gue mah lebih suka yang natural-natural aja, tanpa diatur harus gini harus gitu. Kampret, lah.

Syuting-pun dimulai!
Acaranya lumayan seru, kocak, dan menghibur kalo kata gue. Pengisi acara yang hadir di acara itu pun lumayan kece dan seger-seger. Host-nya ada Anya Dwinov dan Andini (gue ga kenal ni orang, tapi cantik banget). Kemudian ada Bang Effendi Gazali, Ucup Kelik, Cah Lontong, Isa Perez (panelis), serta Yadi Sembako dan Christy Jusung (Solusers). Bintang tamunya sendiri ada Rendy Ahmad (pemeran Arai di film Sang Pemimpi) bersama teman-temannya, dan juga ada girlband bernama SIX STARS (kata gue mah, ga pantes dan ga cocok banget girl band ngisi di acara macam ini).
Syuting episode kali itu menghadirkan secara langsung ketua KPK, Abraham Samad, beserta mbak-mbak dari ICW (Indonesian Corruption Watch), karena temanya sendiri adalah ngebahas tentang "Saweran untuk Gedung KPK", yang emang tengah marak-maraknya dibahas oleh banyak orang.

Secara keseluruhan sih asyik-asyik aja ikut syuting acara ini, meskipun gue harus nahan pipis selama proses syuting yang berlangsung selama hampir dua jam lebih itu. Orang-orang di sana juga menurut gue cukup profesional kerjanya, sehingga kesalahan saat proses syuting boleh dibilang sedikit sekali dan syuting-pun berlangsung dalam waktu yang engga terlalu molor.
Acaranya sendiri baru tayang semalem, dan gue cuma bisa ngakak-ngakak doang liat tayangan hasilnya. Muka gue di tv ga kontrol banget, plus keliatan banget muka berminyak-nya. Selain itu, emang bener ya kata kebanyakan orang, kalo di tv jadi keliatan lebih 'melebar' dari aslinya, dan iya..badan gue dan temen-temen gue jadi keliatan lebih lebar dan gemukan hehehe.



thank you!
Read More..

Jumat, 06 Juli 2012

Waktu Itu, Ketika Gue Lolos Masuk IPB

Hello, guys!

Hari ini, timeline Twitter gue ramai memperbincangkan hasil SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri), salah satu jalur populer untuk meraih perguruan tinggi beserta jurusan yang diinginkan. Ada yang lulus, dan tentu saja ada pula yang tidak. Selamat gue ucapkan untuk yang sudah berhasil lulus. Tetap semangat dan jangan pernah putus asa untuk yang tidak lulus. Hidup itu lebih dari sekadar persoalan lulus atau tidak lulus SNMPTN, kawan.
Gue pribadi engga pernah merasakan apa itu yang namanya SNMPTN. Gue sama sekali engga tahu bagaimana rasanya berada dalam situasi di mana lo harus ngerjain puluhan soal-soal tertulis dan harus bersaing dengan ribuan orang demi satu tujuan: mendapatkan satu tempat di perguruan tinggi. Gue juga sama sekali engga tahu bagaimana dan seberapa deg-degannya ketika lo harus menunggu hasil tes/seleksi yang tentunya sudah lo perjuangkan habis-habisan.
Entah bagaimana rasanya, gue engga pernah tahu.
Engga pernah terbayangkan di benak gue sebelumnya, kalo gue bakal kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri yang cukup bergengsi, bernama Institut Pertanian Bogor (IPB). Semuanya bermula ketika dua tahun yang lalu, di saat gue yang saat itu masih berseragam putih abu-abu; mendatangi ruangan BK sekolah bersama beberapa orang teman SMA gue, untuk mencari informasi mengenai jalur undangan/PMDK yang dikirimkan oleh perguruan tinggi ke sekolah.
"Baru IPB yang sudah ngirim surat undangan PMDK, perguruan tinggi lain belum", begitu kira-kira kata guru BK yang gue dan temen-temen gue temui di ruangannya. IPB? Jujur, gue engga terlalu mengenal banyak mengenai perguruan tinggi ini.

Dari guru BK sekolah, gue meminjam buku panduan informasi jurusan-jurusan yang ada di IPB. Buku tersebut gue baca dan pelajari di rumah setiap harinya, dan alhasil... gue tertarik sama salah satu jurusan yang ada. Jurusan itu bernama Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat.

Pada akhirnya, setelah mempertimbangkan ini dan itu; setelah berdiskusi dengan orang tua, keluarga, dan juga guru-guru di sekolah; setelah berdebat cukup lama dengan batin gue sendiri; gue pun memberanikan diri untuk melamar dan mengirimkan berkas-berkas persyaratan ke IPB. Dari sekolah gue, yang melamar ke IPB saat itu ada sepuluh orang (termasuk gue). Pengalaman dari tahun-tahun sebelumnya, yang diterima di IPB melalui jalur ini biasanya tidak pernah lebih dari lima orang. Gue cemas, takut engga diterima.

Akan tetapi, satu hal yang membuat gue optimis bahwa gue akan diterima di IPB adalah peluang gue yang terbilang cukup gede untuk dapat meraih satu tempat di IPB. Diatas kertas, nilai rata-rata rapor gue berada di peringkat kedua dari sepuluh orang pelamar sekolah gue tersebut. Kalaupun yang keterima di IPB kurang dari lima orang, kemungkinan besar gue bisa masuk salah satu diantaranya. Namun tetap saja, nilai rapor saja tidak menjamin. Masih banyak kriteria seleksi lainnya yang harus dipertimbangkan untuk satu buah tempat di IPB.

Hampir dua bulan lamanya gue harus menunggu pengumuman hasil PMDK IPB (yang bernama USMI--Undangan Seleksi Masuk IPB). Berbeda dengan teman-teman gue yang melamar jalur undangan perguruan tinggi ini dan itu sembari menunggu pengumuman dari IPB, gue engga. Gue cuma melamar di IPB dan entah kenapa jadi engga tertarik (atau males) untuk mencoba mengirim lamaran ke perguruan tinggi lainnya.

Sekitar bulan Januari 2010, ketika gue main ke warnet sepulang sekolah, gue dikejutkan dengan pengumuman di situs resmi IPB yang menyatakan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat di Institut Pertanian Bogor.

"Alhamdulillah hirrobbil 'alamin"--itu kata pertama yang terucap dari mulut gue.

Dari sepuluh pelamar, hanya empat orang yang diterima melalui jalur undangan IPB. Betapa senang dan bangganya gue. Jalan menuju perguruan tinggi sangatlah dipermudah oleh Allah. Gue engga perlu lagi daftar dan bayar bimbel mahal-mahal untuk persiapan tes SNMPTN, gue engga perlu lagi ikut tes SNMPTN dengan peluang lulus yang terbilang cukup kecil, gue engga perlu capek-capek melamar sana-sini untuk masuk perguruan tinggi. Gue berhasil masuk dengan mudah melalui jalur undangan PMDK atau yang di IPB dinamakan dengan jalur USMI.
Ah, Allah maha baik.
 ***
Hingga saat ini, gue sudah dua tahun kuliah di IPB. Wow, begitu banyak hal-hal dan pengalaman yang gue dapatkan selama berkuliah di tempat ini. Di sini gue tidak hanya belajar sebatas pelajaran mata kuliah, tapi lebih dari sekadar itu, di sini gue banyak belajar mengenai hidup.
Read More..